Jumat, 10 April 2020
Tantangan menulis tema singkong dan kopi
Tempo dulu, singkong hampir termasuk makanan wajib. Kenapa saya katakan wajib? Karena keberadaannya sudah seperti makanan pokok pendamping nasi. Alias camilan yang mudah didapat dan hemat dikantong.
Selain ekonomis, singkong dapat diolah dengan berbagai varian. Tergantung selera pemakan dan kemampuan meraciknya. Seingat penulis, singkong paling enak jika ditumbuk dan ditaburi kepala parut. Kadang jika ditambah sedikit kopi hitam kedalamnya akan menambah cita rasa singkong tersebut. Tapi itu kembali lagi ke masing-masing selera
Selain ekonomis, singkong dapat diolah dengan berbagai varian. Tergantung selera pemakan dan kemampuan meraciknya. Seingat penulis, singkong paling enak jika ditumbuk dan ditaburi kepala parut. Kadang jika ditambah sedikit kopi hitam kedalamnya akan menambah cita rasa singkong tersebut. Tapi itu kembali lagi ke masing-masing selera
Rabu, 08 April 2020
Menulis tanpa ide
Di ruang sempit inilah kami menghabiskan hampir 4 pekan. Mengurung diri dari segala aktivitas luar yang sedang dilarang. Merenungi hidup yang sudah berjalan dan yang akan dijalani.
Kipas angin model lama tak hentinya menderu-deru di loteng ruang kecil kami. Jika ia bisa berkata mungkin ia sudah mengeluh lelah. Karena tak pernah dipadamkan. Ruang yang tak berventilasi ini sangat membutuhkannya untuk sedikit memberi hawa dingin untuk si pemilik.
Sepeda motor yang biasanya menemaniku bekerja. Kini mesinnya mulai mendingin. Ia yang biasanya perkasa di atas karpet hitam sedang beristirahat entah sampai kapan sang pejabat memanggilnya lagi.
Kulkas, piring dan kompor yang juga mendiami ruang kecil, kini semakin sering digunakan. Ia semakin dibutuhkan. Semakin dielus dan dipoles.
Tak berpenghuni
Kini gedung tak berpenghuni
Tamannya tak ada yg menjamah lagi
Daun dan ranting kian berpesta
Suara nyaring yg dulu membahana
hilang dalam buaian daring
Entah sampai kapan ini kan berakhir
Begitu lama..
Sperti menghitung semut yang sudah membuat tempat berteduhnya
Kini, ia senang tak ada yang mengganggu
Kini gedung tinggal sendiri
Setelah lama ditinggal sang penghuni
Mungkin ia sudah rindu si pemilik hati
Dalam diam ia menangis tak bertepi
Kamis, 05 September 2019
Kamis, 22 Agustus 2019
Guru Muda Milenial
Ia sosok yang begitu menginspirasi. Sosok yang mampu
membakar semangat muda.Sosok yang menurut hematku bisa menjadi role model di
masa depan. Dialah Cekgu muda yang pernah kujumpai disepenggal perjalanan hidupku.
Cekgu yang pernah mengaduk-aduk perasaan setengah bayaku. Cekgu
yang membuatku tak ingin menjadi butiran debu diantara mereka yang muda dan
berkarya. Cekgu yang pernah memompa semangatku bangkit agar tetap tegak berjalan
bersama.
Cekgu yang katanya tak berpengalaman itu, namun nyatanya mampu
berinovasi mengalahkan yang berpengalaman. Cekgu yang idealis namun mampu berjuang
meski harus mengabdi di tempat jauh dan kecil.
Satu diantara sosok Cekgu muda milenial yang lahir dari
rahim CAT yang tanpa diuji pengalaman mengajar. Sosok para Cekgu muda yang sering
dibully oleh hatters dunia maya yang nyatanya jauh lebih kreatif dari mereka yang
hanya mengandalkan pengalaman mengajar puluhan tahun.
Sosok yang katanya sendiri adalah Cekgu penikmat jarak.
BAYAR DENDA
“Ketika hasrat menulis dihalang oleh kegiatan yang tak
kalah penting merupakan hal yang sangat menyakitkan. Antara mengikuti niat hati
dan mengerjakan hal wajib yang tidak bisa dilanggar”.
Setiap pemula pasti merasakan hal yang saya utarakan
di atas. Sebagai pemula menghasilkan tulisan setiap hari adalah hal wajib.
Namun, memenuhi kewajiban hidup adalah sebuah keniscayaan. Tetapi, rutinitas
menulis juga harus menjadi prioritas agar niat hati yang sudah tertanam kuat
dalam sanubari tidak luntur.
Tentu. Membagi waktu adalah jawaban yang terpikir
dan disarankan, baik oleh penulis profesional maupun oleh sang pengamat masa. Karena
berbicara adalah mudah, namun melaksanakan adalah hal tersulit yang didapatkan oleh
para pemula. Karena yang tahu kondisi diri penulis adalah ia sendiri.
Dari semua kesulitan dalam membagi waktu penulis
pemula dapat diatasi dengan membayar denda. Membayar hari menulis yang hilang dihari
berikutnya. Membayar tulisan sesuai dengan jumlah hari yang sudah ditinggalkan.
Menurut hemat penulis pemula ini merupakan salah satu bagian untuk tetap
menjaga komitmen diri dalam menulis.
Langganan:
Postingan (Atom)
